Film Animasi Merah Putih Dihujat Netizen, Begini Respons Menbud
Film animasi Merah Putih: One for All yang digadang sebagai kado HUT ke-80 RI justru menuai kritik keras dari publik. Alih-alih memicu kebanggaan, trailer dan tayangan perdananya ramai diperbincangkan karena kualitas visual yang dianggap jauh dari standar layar lebar.
Netizen menyoroti detail karakter, latar animasi, hingga gerakan yang dinilai kaku. Tak hanya itu, penggunaan anggaran besar dalam produksi singkat menambah sorotan tajam terhadap film Merah Putih yang diharapkan merepresentasikan semangat persatuan bangsa.
Respons Menbud Terhadap Film Animasi Merah Putih
Film animasi Merah Putih: One for All bercerita tentang sekelompok anak dari berbagai latar budaya di Indonesia. Mereka tergabung dalam Tim Merah Putih yang bertugas menjaga bendera pusaka menjelang perayaan 17 Agustus.
Namun, kisahnya berubah ketika bendera tiba-tiba hilang tiga hari sebelum upacara kemerdekaan. Para tokoh anak kemudian berpetualang melewati sungai, hutan, dan badai untuk menemukannya sambil meredam ego masing-masing.
Sayangnya, niat mulia menghadirkan cerita persatuan bangsa ini kurang didukung kualitas eksekusi. Netizen menyebut animasinya seperti “cutscene PS2” dan terlihat terburu-buru.
Kritik yang muncul tidak hanya dari warganet, melainkan juga beberapa penggiat perfilman Indonesia. Mereka menyoroti transparansi proses produksi serta standar animasi yang dinilai belum layak tayang di layar bioskop.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon akhirnya menanggapi ramainya polemik film Merah Putih ini. Ia mengaku belum menonton film tersebut, namun tetap mengajak anak bangsa untuk terus berkarya.
“Memang saya belum menonton bagaimana film tersebut, tetapi kita harus melihat niatnya untuk memajukan film Indonesia,” kata Fadli seperti dikutip ANTARA pada Sabtu (18/08/2025).
“Tentu karena film Indonesia ini sekarang semakin mendapatkan apresiasi dari masyarakat kita, jadi kita harus membuat film-film yang baik,” tambahnya.
Baca Juga: Hary Tanoe Digugat Rp119 Triliun, PT CMNP Ungkap Skandal NCD Bodong
Fadli juga menambahkan bahwa film Indonesia kini sudah mencapai 67 persen penonton di dalam negeri. Hal ini menurutnya menjadi bukti bahwa masyarakat semakin mengapresiasi karya lokal.
Meskipun demikian, Fadli menegaskan dirinya belum bisa memberi penilaian sebelum menonton. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah belum membicarakan bantuan atau dana khusus untuk film animasi tersebut.
“Jadi, karya-karya terbaiklah yang harus ditampilkan, tetapi sekarang saya belum bisa menilai karena belum menonton,” ujarnya.
“Untuk pendanaan, saya kira nanti (dibahas), saya kira kita punya mekanismenya di dalam skema bantuan itu.” pungkasnya.
Film animasi Merah Putih: One for All pada akhirnya menjadi contoh bagaimana ekspektasi publik bisa berbalik menjadi kekecewaan. Kritik keras dari netizen diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi agar animasi lokal ke depan lebih siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.***
