ASEAN Percepat Kode Etik Laut China Selatan Jelang 2026
ASEAN terus menunjukkan komitmen dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara, terutama di wilayah Laut China Selatan yang rawan sengketa. Salah satu upayanya adalah mempercepat perundingan Kode Etik (Code of Conduct/CoC) yang diharapkan dapat disepakati paling lambat tahun 2026.
Kode Etik ini telah lama dinanti sebagai pedoman yang dapat mengatur perilaku negara-negara yang terlibat dalam sengketa di kawasan tersebut. Upaya ini tidak hanya menjadi kepentingan regional, namun juga menjadi sorotan internasional terkait perdamaian dan keamanan maritim.
ASEAN dan China Bahas Empat Isu Krusial dalam Perundingan CoC
ASEAN tengah mempercepat penyelesaian Kode Etik Laut China Selatan yang ditargetkan rampung pada tahun 2026. Hal ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro, dalam jumpa pers pada Senin (14/7).
Kode etik yang sedang dirancang tersebut akan menjadi panduan bersama untuk mengurangi potensi konflik di wilayah maritim yang hingga kini masih diperebutkan oleh berbagai pihak. Lazaro menyebutkan bahwa sejumlah putaran pertemuan lanjutan telah dijadwalkan untuk menyempurnakan hasil diskusi sebelumnya yang dilangsungkan di Manila pada April lalu.
“Mengenai Kode Etik, pandangan kami dan kita semua bekerja sama agar Kode Etik ASEAN-China dapat terbit tahun depan sebagaimana diamanatkan oleh para menteri luar negeri pada 2023,” ujarnya dalam jumpa pers yang digelar di Kota Pasay seperti dikutip melalui Antara pada Selasa (15/7/2025).
Malaysia direncanakan menjadi tuan rumah dari sesi kelompok kerja teknis yang berikutnya, yang akan digelar pada Agustus 2025. Pertemuan itu akan dilanjutkan di Singapura pada bulan September, lalu ditutup dengan pertemuan terakhir yang akan berlangsung di China.
Menurut Lazaro, seluruh proses pembahasan sedang dipercepat, namun tetap berjalan dalam kerangka waktu dan prosedur yang telah disepakati oleh para pihak.
Baca Juga: China Rusia Sepakat Dukung Iran, Kecam Serangan AS-Israel
“Semua ini dipercepat, tetapi tentu saja, dalam kerangka waktunya sendiri dan diskusi sedang dibahas secara intensif,” tambahnya.
Dalam negosiasi tersebut, ASEAN dan China masih bergulat dengan empat poin yang dianggap sebagai aspek paling krusial dari CoC. Keempat hal tersebut meliputi hubungan antara CoC dan Deklarasi Perilaku (DoC), status hukum dari dokumen akhir, batas cakupan wilayah yang akan diberlakukan, serta penafsiran sejumlah istilah penting seperti “pengendalian diri”.
“Ini adalah empat isu penting karena ini adalah yang paling menonjol. (Terkait) tempat dan informasi yang telah saya berikan, ini akan dibahas. Jadi, ini sedang berkembang,” kata Lazaro menjelaskan prosesnya.
Kode Etik ini diyakini akan berperan sebagai instrumen strategis dalam mencegah gesekan lebih jauh antara negara-negara yang memiliki klaim di wilayah Laut China Selatan. Pembahasan intensif ini dilakukan di tengah situasi geopolitik kawasan yang dinamis dan penuh kehati-hatian.
Lebih lanjut, Lazaro menyebut bahwa ketika Filipina menjabat sebagai Ketua ASEAN pada 2026 mendatang, fokus utama mereka akan tertuju pada tiga isu lintas sektoral. Ketiga isu tersebut adalah perdamaian dan keamanan kawasan, kerja sama kelautan, serta penanganan perubahan iklim.***
