5 Jurnalis Al Jazeera tewas di Gaza, Israel mengakui serangan tersebut.
Serangan udara terbaru di Gaza kembali memicu kecaman internasional setelah lima Jurnalis Al Jazeera tewas dalam serangan drone yang menargetkan tenda media dekat Rumah Sakit al-Shifa. Insiden yang terjadi pada Minggu malam ini menambah daftar panjang korban jiwa di kalangan jurnalis sejak konflik pecah pada (07/10/2023).
Peristiwa tragis ini turut memunculkan tuduhan pelanggaran berat terhadap kebebasan pers, mengingat serangan tersebut dilakukan terhadap wartawan yang sedang bertugas meliput kondisi lapangan. Laporan Al Jazeera dan organisasi perlindungan jurnalis menyebut serangan ini sebagai pembunuhan terencana.
Israel Akui Serangan, Kematian Jurnalis Al Jazeera Sebut Pembunuhan Terencana
Lima Jurnalis Al Jazeera dilaporkan tewas dalam serangan drone Israel yang menghantam tenda media di dekat Rumah Sakit al-Shifa, Gaza City. Serangan terjadi pada Minggu malam, saat para jurnalis sedang melakukan pertemuan kerja.
Korban tewas adalah koresponden Anas al-Sharif, Mohammed Qreiqeh, kameramen Ibrahim Zaher dan Moamen Aliwa, serta asisten Mohammed Noufal. Dua warga sipil lainnya juga meninggal dunia dalam insiden tersebut.
Al Jazeera Media Network mengecam keras serangan ini, menyebutnya sebagai “pembunuhan terarah” terhadap pekerja media.
“Serangan ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kebebasan pers,” bunyi pernyataan resmi mereka.
Menurut Al Jazeera, pembunuhan terhadap Anas al-Sharif dan rekan-rekannya merupakan upaya untuk membungkam suara yang mengungkap rencana perebutan dan pendudukan Gaza. Pernyataan itu juga menyoroti dampak kemanusiaan yang semakin memburuk akibat serangan Israel.
Baca Juga: Gizi Buruk di Gaza Tewaskan 74 Orang, WHO: Situasinya Gawat!
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengungkapkan keterkejutannya atas kematian para Jurnalis Al Jazeera tersebut.
“Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh menjadi target. Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban,” kata Sara Qudah, direktur regional CPJ seperti dilansir melalui Al-Jazeera.
Israel mengklaim bahwa Anas al-Sharif memimpin sel Hamas, namun belum memberikan bukti yang mendukung tuduhan tersebut. Klaim serupa telah sering digunakan untuk mendiskreditkan jurnalis di Gaza sejak awal perang.
CPJ sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran atas keselamatan Anas al-Sharif yang menjadi sasaran kampanye fitnah oleh militer Israel. Tuduhan tersebut dinilai sebagai upaya untuk membungkam liputan mengenai dugaan pelanggaran HAM.
Sejak 7 Oktober 2023, hampir 270 jurnalis dan pekerja media telah tewas akibat serangan Israel di Gaza. Beberapa di antaranya adalah anggota keluarga dari Jurnalis Al Jazeera yang juga menjadi korban.
Organisasi hak asasi manusia menilai pembunuhan para jurnalis ini sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional. Mereka mendesak investigasi independen untuk memastikan akuntabilitas pihak yang bertanggung jawab.
Tragedi ini kembali menyoroti risiko tinggi yang dihadapi Jurnalis Al Jazeera dan wartawan lainnya di zona konflik. Serangan terhadap pekerja media bukan hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga mengancam transparansi informasi dari wilayah perang.
