
Israel Bombardir Suriah, Tewaskan Warga Sipil dan Picu Kecaman!
Ketegangan meningkat tajam di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Suriah. Target utama serangan ini adalah Damaskus, ibu kota negara, serta Suwayda, wilayah yang mayoritas penduduknya berasal dari komunitas Druze. Serangan ini menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai puluhan lainnya.
Pemerintah Negeri Syam itu mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara. Israel mengklaim serangan dilakukan demi melindungi komunitas Druze dari kekerasan pasukan pemerintah, namun langkah ini memicu kontroversi dan kekhawatiran internasional.
Serangan Israel di Tengah Konflik Internal Suriah
Serangan Israel terjadi pada Rabu, dengan menargetkan kompleks Kementerian Pertahanan dan area sekitar Istana Presiden di Damaskus, Suriah. Dua serangan besar tercatat pada pukul 15.00 waktu setempat, menyebabkan kerusakan struktural besar dan asap tebal membubung.
Selain Damaskus, kota Suwayda di wilayah selatan juga diserang menggunakan drone. Wilayah ini telah diguncang bentrokan antara kelompok Druze, suku Badui, dan tentara pemerintah selama beberapa hari terakhir.
Menurut Syrian Observatory for Human Rights, lebih dari 250 orang tewas dalam bentrokan yang terjadi di Suwayda. Pemerintah Suriah menilai intervensi Israel justru memperparah konflik lokal yang sudah memanas.
Baca Juga: ASEAN Percepat Kode Etik Laut China Selatan Jelang 2026
“Ini adalah eskalasi besar,” ujar Zeina Khodr langsungg dari Damaskus.
“Ini pesan langsung dari Israel kepada pemerintahan baru Suriah bahwa mereka akan melanjutkan serangan jika pasukan pemerintah tidak menarik diri dari selatan,” tambahnya seperti dikutip melalui Aljazeera pada Kamis (17/07/2025).
Israel mengklaim bahwa serangan ini dilakukan untuk mencegah pembangunan kekuatan musuh di dekat perbatasannya dan melindungi komunitas Druze yang mereka anggap sekutu. Namun, sebagian tokoh Druze di Negeri Syam sendiri menolak campur tangan Israel dan menganggapnya sebagai bentuk penjajahan terselubung.
Pemerintah Suriah kini mengumumkan gencatan senjata dan memulai penarikan pasukan dari wilayah Suwayda. Meski begitu, situasi masih belum stabil karena sebagian kelompok Druze menolak kesepakatan damai dan menuding pemerintah menggunakan kekerasan terhadap warga sipil.***